Farhanah Nurul Lathifah

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya

D-A-R-I-N-G (Cerita dan Derita)

Banyak orang bilang masa-masa indah saat di SMP adalah masa-masa kelas 8. Di mana kelas 7 baru saja melakukan pengenalan sekolah dan kelas 9 harus sibuk belajar untuk ujian. Sedangkan kelas 8 adalah yang paling bebas.

Sejalan dengan apa yang orang katakan dan apa yang sampai di telingaku. Di akhir masa-masa kelas 7, aku selalu membayangkan betapa indahnya bila nanti aku sudah beranjak ke kelas 8.

Akhirnya aku sudah berada di sini, di kelas 8. Aku tidak pernah menyalahkan siapa pun untuk ini tapi satu hal yang pasti, semua keadaan tak lagi sama.

Covid-19, itulah alasannya. Tak ada yang pernah membayangkan, dan tak pernah ada yang mengharapkan kehadirannya di sini. Semua berubah. Tak lagi sama. Bukan! Bukan hanya aku, namun hampir seluruh penduduk dunia terkena dampaknya. Banyak orang kehilangan pekerjaannya, kehilangan orang kesayangannya, dan bahkan kehilangan nyawanya sendiri.

Statistik penyebaran Covid-19 terus menunjukkan perubahan, peningkatan, dan pengurangan angka secara silih berganti. Angka yang bukan sekedar angka, namun angka yang melambangkan nyawa, hidup atau mati.

Kembali ke kisahku. Sama seperti dunia yang kian berantakan. Dunia pendidikan pun salah satu yang terkena dampaknya. Banyak sekolah harus secara terpaksa memberikan izin pembelajaran secara daring atau pembelajaran dari rumah akibat virus yang kian menunjukkan eksistensinya.

Semua terus menerus berinovasi untuk kembalinya pendidikan Indonesia, namun semua yang menjadi hal baru, haruslah berada di tahap adaptasi yang terkadang sedikit menyulitkan. Tak hanya siswa dan siswi, melainkan guru dan orang tua juga menjadi orang yang harus tergabung dalam adaptasi dunia baru pendidikan Indonesia.

Pembelajaran secara daring. Itulah namanya. Mungkin terlihat keren bahwa hanya perlu berada di rumah, bisa membuka gawai sepuasnya dan tak perlu susah-susah pergi ke sekolah untuk belajar. Namun di balik itu, aku merasa sulit untuk dapat memahami sebuah ilmu dengan baik.

Aku adalah tipe orang yang tidak susah untuk mengerti dan memahami sebuah mata pelajaran dengan mendengar dan memperhatikan. Tapi aku sulit memahami pelajaran dari hanya membaca sebuah buku, atau membaca website pembelajaran.

Beberapa nilaiku menurun, bukan karena aku yang malas belajar. Tapi hampir semua yang ku baca tak lah dapat dengan mudah sampai ke kepalaku semudah saat masih belajar dengan normal di sekolah. Saat ujian, nilaiku yang biasanya sampai menyentuh angka puluhan 9, harus berpuas hati dengan angka 8 di beberapa pelajaran. Banyak temanku menyontek dan bekerja sama sehingga mereka mendapat nilai 100. Terkadang ini sedikit menyedihkan, tapi pada akhirnya aku juga tidak dapat berbuat apa-apa.

Beberapa kali daerahku, mendapatkan izin untuk dapat belajar secara tatap muka, aku sangat senang akan hal itu, karena pelajaran akhirnya dapat kucerna satu persatu. Meskipun begitu, ada 3 persyaratan yang tak boleh terlupakan, yaitu memakai masker, mencuci tangan dengan sabun , dan terus menjaga jarak. Untungnya itu bukanlah hal yang sulit untuk dapat ku lakukan.

Namun, semua tak berlangsung lama, karena daerahku kembali memberikan perintah agar sekolah kembali daring. Saat itu aku benar-benar merasa sedih.

Sekolah, tempat di mana semua proses belajar mengajar berlangsung, tempat di mana banyak kenangan kisah kasih di sekolah terjadi, saat ini hanyalah menjadi bangunan kosong yang sunyi, tanpa suara, tanpa berita dan tanpa canda tawa. Tapi bukan berarti aku menyesali semuanya yang terjadi, karena aku yakin tahun-tahun ini akan dapat menjadi sejarah, yang dapat kuceritakan di masa depan nanti. Terima kasih Tuhan Yang Maha Esa, yang memberiku pengalaman yang takkan terlupakan.

Tentang Penulis :

Nama saya Farhanah, saat ini adalah seorang siswi SMP yang duduk di bangku kelas 8.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Siswa Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali